Pages

Saturday, August 31, 2019

Faye Simanjuntak, Aktivis Belia Anti Eksploitasi Anak

Jakarta, CNBC Indonesia - Pada masa muda tentunya menjadi hal yang sangat indah bagi para anak-anak. Namun ini berbeda dari gadis belia bernama Faye Simanjuntak yang menjadi aktivitis untuk anak dan perempuan.

Faye Simanjuntak adalah anak dari Mayor Jenderal TNI  Maruli Simanjuntak yang menjabat sebagai Komandan Paspampres sekaligus cucu dari Menko Kemaritiman Luhut Bisnar Pandjaitan. Jiwa sosial Faye tumbuh dari keluarganya yang aktif di kegiatan sosial.

"Jadi dari kecil keluarga aku sudah mengajari aku untuk berbagi karena papa bilang kalau mau diberkati Tuhan harus give back orang lain. Suka diajakin ke panti dan aku pernah belajar tentang perdagangan manusia dan prostitusi anak dan itu sangat jarang aku dengar karena itu isu sensitif dan tabu," ujar Faye kepada CNBC Indonesia.


Berangkat dari hal tersebut, remaja yang baru lulus SMA ini pun mendirikan organisasi sosial yang fokus pada anti prostitusi, pelecehan dan perdagangan anak yakni Rumah Faye yang berdiri pada 2013 silam.

Rumah Faye yang ia dirikan merupakan tempat penampungan di Batam yang dinamai Rumah Aman. Faye mengatakan alasannya mendirikan Rumah Faye di Batam untuk pertama kali karena banyaknya perdagangan anak melalui jalur pulau yang dijual hingga negara tetangga.

Di luar nama besar sang kakek dan ayahnya, ternyata Faye membangun Rumah Faye atas kemauan dirinya atas dukungan orang tuanya. Keprihatinan Faye ini pun membawanya untuk mengirim surat kepada menteri di Indonesia namun sayangnya tidak ada yang menjawab.

Tak patah semangat, Faye mendapatkan jalan melalui yayasan yang menangani perdagangan anak dan pelecehan di Thailand. Disana Faye yang didampingi orang tuanya belajar tentang perdagangan manusia dan life skill untuk membantu korban.

Baginya, Indonesia masih sangat sedikit yang fokus di bidang perdagangan anak dan begitu sensitif. Berkat ilmu yang dimiliki, Faye meminta orang tuanya untuk membuatkan yayasan untuk membantu korban perdagangan anak dan pelecehan dan jadilah satu rumah singgah bernama Rumah Aman yang ada di Batam.

"Secara legal Rumah Aman punya ibuku, aku co-founder nya dan bapakku membuka mataku karena dari dia semua isu-isu yang ada di Indonesia aku jadi tahu dan gimana aku harus membantu. Aku nangis saat mendapatkan Rumah Aman karena ada donor yang memberikan rumah tersebut dan itu artinya kita bisa membantu anak-anak," kata dia.

Dia menuturkan bahwa sewaktu terjun menjadi aktivis belia, orang tua nya belum mengizinkannya untuk bertemu secara langsung kepada korban. Itu lantaran takut berpengaruh pada psikis nya yang masih sangat kecil untuk mengetahui kejadian yang menyakitkan.

Telah berjalan hampir 6 tahun, Rumah Faye kini telah berekspansi untuk memberikan sosialiasi ke sekolah-sekolah. Serta fokus memberi edukasi kepada daerah rawan akan eksploitasi anak di Jakarta.


Kendati sibuk menjadi aktivitis muda, bukan berarti masa remaja hilang begitu saja. Kehidupan Faye dikatakannya akan beriringan dengan pendidikan dan mimpinya untuk lebih membantu sesama.

Siapa sangka kepeduliaannya terhadap isu-isu sosial tentang anak membuat Faye terpilih sebagai salah satu finalis Internasional Children's Peace Prize 2017 di Belanda. Faye Simanjuntak juga menjadi salah satu pemuda paling berpengaruh di Indonesia berdasarkan daftar 50 Asians to Watch yang dilansir The Straits Times.

Faye Simanjuntak, Aktivis Belia Anti Eksploitasi AnakFoto: Faye Simanjuntak (Lynda Hasibuan)
(dob/dob)

Let's block ads! (Why?)



from CNBC Indonesia https://ift.tt/34hPGKc
via IFTTT

No comments:

Post a Comment