Pages

Tuesday, July 30, 2019

BPK Sebut KRAS Sedang Hadapi Gempuran Baja China

Jakarta, CNBC Indoneisa - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyebut PT Karakatau Steel Tbk (KRAS) menghadapi persaingan yang ketat di industri baja di tengah gempuran impor produk baja asal China.

Karena itu, menurut Anggota III Badan Pemeriksa Keuangan Acshanul Qosasi berpendapat, perusahaan baja pelat merah itu harus berbenah. "Krakatau Steel harus memperbaiki diri untuk menghadapi persaingan baja dengan perusahaan China," kata Achsanul, kepada CNBC Indonesia, Selasa (30/7/2019)
.


Persoalan ini juga sempat dilontarkan Silmy Karim, Direktur Utama Krakatau Steel. Bahkan, kata dia, industri baja dalam negeri dinilai sudah terkena dampak baja impor jauh sebelum terjadinya perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China berkecamuk.

China memproduksi baja hingga 1 miliar ton per tahun, sementara produksi Indonesia sekitar 7 juta. Selain itu, dengan pasokan dalam negeri yang berlebih (over supply), China memang menerapkan beberapa taktik yang dinilai sah-sah saja.

"Kita dalam menghadapi situasi ini harus realistis, enggak bisa memaksakan mau kita apa. Ekonomi pasar sudah terjadi, supaya menang harus punya daya saing, kita [baja nasional] akan ditolong level playing field [lapangan usaha] yang sama," kata Silmy kepada CNBC Indonesia, di Jakarta, Rabu (24/7/2019).


BPK juga menyoroti agar KRAS lebih efisien dengan menghentikan proyek pabrik baja dengan teknologi tanur tiup atau blast furnace. Ia menilai, proyek pabrik baja dengan teknologi blast furnace lebih baik dihentikan karena adanya pemborosan. Blast Furnace atau biasa juga disebut dengan tanur tiup digunakan untuk mereduksi secara kimia dan mengkonversi secara fisik bijih besi yang padat.

"Proses produksi terlalu panjang, sekarang untuk lebih efisien, dihentikan saja," ungkapnya.

Sebelumnya, persoalan ini juga disoroti Komisaris Independen Krakatau Steel, Roy Maningkas. Ia mengungkapkan bahwa proyek Blast Furnace itu bisa membuat perusahaan merugi hingga Rp 1,17 triliun - 1,38 triliun per tahun (US$ 85-96 juta).


Pasalnya, harga pokok produksi dari Blast Furnace justru menjadi lebih mahal, otomatis harga produk pun akan lebih mahal di pasaran.

"Saya menghitung harga pokok produksi akan lebih mahal sekitar US$ 70-82 per ton. Kalau kapasitasnya 1,2 juta ton kan besar sekali kerugiannya," kata Roy kepada CNBC Indonesia, Rabu (24/07/2019).

Langkah Berat Krakatau Steel Hadapi Serbuan Baja China
[Gambas:Video CNBC] (hps/hps)

Let's block ads! (Why?)



from CNBC Indonesia https://ift.tt/2GCNpyW
via IFTTT

No comments:

Post a Comment