Pages

Thursday, October 31, 2019

Asing Lepas 5 Saham Ini di Oktober, Net Sell Tembus Rp 3,2 T

Jakarta, CNBC Indonesia -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 1,07% ke level 6.228,32 pada perdagangan akhir Oktober kemarin (31/10/2019. Namun selama sebulan terakhir, IHSG menguat 3,14% seiring dengan rentetan kenaikan 10 hari beruntun yang terjadi pada 11-24 Oktober lalu.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat beberapa saham yang berkontribusi signifikan dalam menekan kinerja IHSG kemarin di antaranya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk/TLKM (-3,75%), PT Sinar Mas Multiartha Tbk/SMMA (-19,79%), dan PT Bayan Resources Tbk/BYAN (-15,9%).

Saham lainnya adalah PT Perusahaan Gas Negara Tbk/PGAS (-13,52%), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk/BBRI (-0,94%).


Kinerja IHSG berbanding terbalik dengan mayoritas bursa saham utama kawasan Asia yang justru melaju di zona hijau: indeks Nikkei naik 0,37%, indeks Hang Seng menguat 0,9%, indeks Straits Times terkerek 0,73%, dan indeks Kospi bertambah 0,15%.

Bursa saham Benua Kuning menguat menyusul keputusan The Federal Reserve (The Fed) selaku bank sentral AS untuk memangkas tingkat suku bunga acuan pada Rabu dini hari atau Kamis pagi waktu Indonesia. Suku bunga The Fed, Federal Funds Rate turun sebesar 25 bps ke rentang 1,5%-1,75%.

Lemahnya pertumbuhan ekonomi global dan rendahnya tingkat inflasi menjadi faktor yang mendasari keputusan tersebut.


Net sell
Masih mengacu data BEI, pada perdagangan Kamis kemarin, asing tercatat melakukan aksi jual (net sell) setengah triliun alias Rp 599,62 miliar di semua pasar, terdiri dari pasar reguler Rp 506,68 miliar dan pasar nego dan pasar tunai Rp 92,93 miliar.

Angka net sell ini paling besar selama pekan ini. Sebagai perbandingan, pada Selasa (29/10), net sell juga menembus Rp 534,70 miliar di semua pasar, terdiri dari pasar reguler Rp 375,19 miliar dan pasar nego dan tunai Rp 159,52 miliar.

Sementara itu pada Rabu (30/10), net sell asing tercatat hanya Rp 59,83 miliar, terdiri dari pasar reguler Rp 10,72 miliar dan pasar nego dan tunai Rp 49,11 miliar.

Sepanjang Oktober atau sebulan terakhir, asing sudah keluar Rp 3,19 triliun, terdiri dari pasar reguler Rp 1,38 triliun dan pasar nego dan pasar tunai Rp 1,81 triliun.


Aksi profit takingini sudah terasa sejak pekan lalu. Apalagi IHSG sempat membukukan apresiasi yang signifikan. Pada Oktober lalu, IHSG sempat tercatat menguat hingga 10 hari beruntun yakni pada periode 11-24 Oktober. Dalam periode tersebut, IHSG menguat 5,25%.

"Melihat adanya perlambatan ekonomi yang terjadi di dunia serta dari domestik pertumbuhan kredit juga melambat, investor asing nampaknya melakukan taking profit dari saham lalu melakukan rotasi aset dari saham yang memiliki risiko tinggi ke aset yang memiliki risiko lebih rendah seperti obligasi," tegas Stefanus Adrian Chandra Wijaya, Equity Research AnalystPT Phillip Sekuritas Indonesia.

Dalam periode tersebut, IHSG menguat seiring dengan optimisme terkait dengan pelantikan presiden dan pengumuman nama-nama menteri yang akan mendampingi presiden. Ditambah dengan sentimen positif hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang menurunkan suku bunga acuan di level 5%.

"Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 23-24 Oktober memutuskan untuk menurunkan bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 5%," kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Gedung BI, Kamis (24/10/2019).

"Kebijakan tersebut konsisten dengan perkiraan inflasi yang terkendali dan imbal hasil instrumen keuangan domestik yang tetap menarik, serta langkah pre-emptive lanjutan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik di tengah perekonomian global yang melambat," tambah Perry.

[Gambas:Video CNBC]

Let's block ads! (Why?)



from CNBC Indonesia https://ift.tt/2PBlO6I
via IFTTT

No comments:

Post a Comment