Pages

Monday, September 30, 2019

Asa Damai Dagang AS-China Membuncah, Straist Times Menguat

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham utama Singapura masuk ke zona hijau pada pembukaan perdagangan hari ini (1/10/2019) seiring dengan kembali membuncahnya harapan atas hubungan dagang dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia, Amerika Serikat (AS) dan China.

Indeks Straits Times dibuka menguat 0,32 ke level 3.130,11 indeks poin, di mana dari 30 saham yang menghuni indeks acuan bursa saham Singapura tersebut, 21 saham yang mencatatkan kenaikan harga, 1 saham melemah, dan 8 saham tidak mencatatkan perubahan harga.

Kemarin (30/9/2019) pasar keuangan global diselimuti awan kelabu seiring dengan beredarnya kabar bahwa Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghapus pencatatan (delisting) saham-saham perusahaan China yang melantai di Wall Street dan membatasi penggunaan dana pensiun pemerintah di pasar keuangan Negeri Tiongkok.

Gedung Putih juga dikabarkan mempertimbangkan membatasi bahkan memblokir semua jenis investasi AS di China, dilansir CNBC International.

"Ini adalah salah satu prioritas utama pemerintah. Perusahaan-perusahaan China tidak patuh terhadap aturan yang ditetapkan PCAOB (Public Company Accounting Oversight Board) sehingga menimbulkan risiko bagi investor," ucap salah seorang sumber.

Namun, Juru Bicara Kementerian Keuangan AS, Monica Crowley membantah kabar tersebut.

"Pemerintah tidak sedang mempertimbangkan melarang perusahaan China untuk mencatatkan saham di bursa AS untuk saat ini," katanya pada Bloomberg seperti dikutip Reuters, Senin (30/9/2019).

Lebih lanjut, pelaku pasar menyampaikan bahwa ancaman delisting atas saham milik perusahaan asal Negeri Tiongkok hanya salah satu taktik sebelum melanjutkan dialog dagang pekan depan.

"Ini adalah strategi yang telah kita lihat di masa lalu - menjaga tekanan sangat tinggi dan kemudian menerima apa pun kesepakatan yang mungkin (dicapai)," ujar Luca Paolini, Kepala Stratejik di Pictet Asset Management, dilansir dari Reuters

Selain itu, analis juga memprediksi kesepakatan sementara (tentatif) dapat dicapai mengingat pemerintahan Trump akan berusaha untuk menghindari kejatuhan ekonomi Negeri Paman Sam di tahun tahun pemilihan.

"Meskipun kita seharusnya tidak membuat pre-asumsi, bagi Trump, tidak membuat kesepakatan dagang dengan China dapat (membuatnya) semakin dipandang negatif menjelang pemilihan tahun depan," ujar Tomoo Kinoshhita, Kepala Strategi Global di Invesco Asset Management, dikutip dari Reuters

Pada hari ini tidak ada rilis data ekonomi dari Singapura. (dwa/dwa)

Let's block ads! (Why?)



from CNBC Indonesia https://ift.tt/2o1him3
via IFTTT

No comments:

Post a Comment