Pages

Tuesday, July 30, 2019

AS-China Potensi Cekcok, Bursa Singapura ke Zona Merah

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham utama Singapura dibuka menguat seiring dengan penantian pelaku pasar atas rapat pengambil kebijakan bank sentral AS/The Fed (FOMC) yang akan mengumumkan tingkat suku bunga acuan terbaru pada Rabu (31/7/2019) waktu setempat.

Indeks Straits Times (STI) dibuka naik 0,28% menjadi 3.359,92 poin. Sayangnya, tak lama setelah dibuka STI sudah masuk ke zona merah dengan melemah 0,03% ke level 3.349,51. Hal ini dikarenakan turunnya ekspektasi investor terkait kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Data pasar menunjukkan dari 30 saham yang menghuni indeks acuan bursa saham Singapura tersebut, sebanyak delapan mencatatkan kenaikan harga, 18 saham melemah, dan 4 saham tidak mencatatkan perubahan harga.


Bursa sama acuan Negeri Singa sempat menguat didorong oleh ekspektasi The Fed akan memangkas suku bunga acuan setidaknya 25 basis poin (bps). Investor juga akan mencermati pidato Gubernur The Fed Jerome Powell untuk melihat potensi penurunan suku bunga akhir tahun ini.

Analis Kathy Lien menyampaikan "The Fed tidak memberi kami alasan untuk mengharapkan apa pun kecuali penurunan suku bunga seperempat poin (25 bps), sehingga pengumuman perubahan suku bunga hanya akan sedikit menggerakkan pasar," katanya dikutip dari CNBC International.

Di lain pihak, investor dibuat cemas terkait kabar terbaru dari hubungan dagang AS dan China. Pasalnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan Beijing mengingkari janjinya untuk membeli lebih banyak produk pertanian AS, dan mengancam bahwa China akan memperoleh hasil yang buruk, dilansir Reuters.

"Masalah dengan mereka menunggu... adalah bahwa jika & ketika sata menang, kesepakatan yang mereka dapatkan akan jauh lebih sulit daripada apa yang kita negosiasikan sekarang ... atau tidak ada kesepakatan sama sekali," ujar Trump di Twitter.

Atas perkataan Trump tersebut, media milik pemerintah China Global Times menulis bahwa para perunding dari Washington harus menunjukkan ketulusan setelah membuat "tuntutan tidak realistis yang melanggar kedaulatan dan martabat China," dilansir Reuters.

Media tersebut juga menulis jika Washington masih memang ilusi bahwa Beijing akan menyerah dan berkompromi pada isu-isu mengenai kedaulatan untuk mencapai kesepakatan, maka tidak ada kesepakatan bukanlah pilihan yang buruk.

Pada hari ini investor akan mencermati rilis data jumlah pinjaman bank bulan Juni yang akan diumumkan pukul 09:00 WIB. Selain itu juga ada rilis indeks keyakinan bisnis kuartal II pada pukul 12:00 WIB.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(dwa/tas)

Let's block ads! (Why?)



from CNBC Indonesia https://ift.tt/2Yk9f5m
via IFTTT

No comments:

Post a Comment