Pages

Friday, November 29, 2019

Ancaman China Guncang Wall Street

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Wall Street atau pasar saham Amerika Serikat harus turun pada perdagangan Jumat (29/11). Penyebabnya adalah investor memandang negatif meningkatnya ketegangan perang dagang China-AS.

Pada kamis (28/11/2019) lalu China mengancam akan memberi balasan pada keputusan presiden AS Donald Trump yang yang meratifikasi RUU dalam mendukung para pemprotes di Hong Kong.

Cara yang berpotensial dilakukan yakni pelarangan terhadap rancangan undang-undang di Hong Kong dan Macau. Hal itu dikatakan editor tabloid Global Times yang didukung pemerintah China dalam sebuah tweet.


Posisi China selama ini jelas, mendukung pemerintahan Hong Kong, termasuk dalam menghadapi demonstran dalam beberapa bulan terakhir.

Namun, Trump tidak tinggal diam. Pemerintahan AS berpotensi untuk kembali meningkatkan hukuman kepada China.

Yakni menghentikan lebih banyak pengiriman produk asing dari teknologi AS ke Huawei China. Padahal dalam beberapa waktu ke belakang, AS sudah mulai mempersulit Huawei dalam pengembangan teknologinya.

Mengutip Reuters, Indeks Dow Jones Industrial Average turun 56,67 poin, atau 0,2% menjadi 28.107,33, sedangkan Indeks S&P 500 turun 4,08 poin, atau 0,13% menjadi 3.149,55. Kemudian, Indeks Nasdaq Composite turun 9 poin, atau 0,1%, menjadi 8.696,18.

Menurut manajer portofolio dan ahli strategi di Natixis Investment Managers Solutions di Boston, Jack Janasiewicz, hubungan antara kedua negara itu memberi sedikit pengaruh negatif terhadap pasar.

Apalagi, di hari Kamis kemarin juga banyak trader yang memilih untuk berlibur. Sambil menunggu data ekonomi dan laporan pekerjaan yang baru rilis di minggu depan.

"Kami (memilih) mendapat data yang rilis minggu depan. Yang memberi gambaran tentang siklus perdagangan. Orang-orang juga ingin tahu bagaimana penjualan ritel ke depannya berjalan," kata Janasiewicz.

Di sisi lain, banyak juga yang menilai kurangnya pembeli yang mengantri di banyak toko diakibatkan oleh beralihnya masyarakat dari sistem belanja langsung ke sistem online.

"Orang-orang lebih memilih berbelanja online. Ini akan menjadi semakin besar," papar Janasiewicz. (dru)

Let's block ads! (Why?)



from CNBC Indonesia https://ift.tt/2P25BoW
via IFTTT

No comments:

Post a Comment