Pages

Wednesday, July 31, 2019

The Fed Pangkas Suku Bunga, So What?

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia pada hari Rabu (31/07/2019) kemarin rata-rata mengalami penguatan. Pasar saham menguat, rupiah menguat, dan pasar obligasi pemerintah rata-rata mengalami koreksi tipis saja.

Setelah cukup lama terperangkap di zona merah, IHSG kemarin akhirnya ditutup positif dengan penguatan sebesar 0,21% pada level 6.390,5. Pergerakan IHSG berlawanan dengan bursa utama kawasan Asia yang terapresiasi, seperti: Nikkei 225 negatif 0,87%, Hang Seng anjlok 1,31%, Shanghai Composite minus 0,67%, Kospi turun 0,69%, dan Strait Times terpangkas 1,49%.

Bursa kawasan Asia terombang-ambing karena cuitan Presiden Trump yang memojokkan China karena belum menambah pembelian produk pertanian asal Amerika Serikat (AS).

"Performa perekonomian China sangatlah buruk, terburuk dalam 27 tahun. Seharusnya, China sudah mulai membeli produk agrikultur dari AS - belum ada tanda-tanda bahwa mereka melakukannya. Itulah masalah dengan China, mereka tidak menepati janjinya," cuit Trump melalui akun @realDonaldTrump, Selasa (30/7/2019).

Kabar baiknya, China akan meningkatkan pembelian produk AS setelah pembicaraan perdagangan AS-China berakhir di Shanghai kemari. Stephanie Grisham selaku juru bicara Gedung Putih mengatakan pembicaraan dengan China "konstruktif" dan akan berlanjut di Washington pada awal September.

Sementara rupiah selamat dari terkaman dolar Amerika Serikat (AS) setelah sempat tertekan sepanjang hari kemarin. Rupiah di pasar spot akhirnya ditutup menguat 0,02% ke level Rp 14.012/$AS.

Penguatan rupiah didorong sentimen penurunan suku bunga Bank Sentral AS (Federal Reserves). Pada pukul 01:00 dini hari tadi, rapat komite pengambil kebijakan The Fed, Federal Open Market Committee (FOMC), Jerome 'Jay' Powell selaku pemimpin rapat mengumumkan pemangkasan suku bunga sebanyak 25 basis poin (bps) menjadi 2%-2,25%, menjadikan suku bunga acuan turun untuk kali pertama sejak Desember 2008.

Tidak hanya faktor dari global, dari dalam negeri upaya Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang memangkas suku bunga acuannya menjadi penstimulasi tersendiri bagi pasar keuangan di Indonesia. Pada pukul 11:00 WIB di Jakarta, LPS menurunkan bunga penjaminan bank umum 25 basis poin menjadi 6,75%, sedangkan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) juga turun 25 bps menjadi 9,25%.

Adapun bunga penjaminan dalam valuta asing (valas) tetap dipertahankan di level 2,25% untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik, mengingat transaksi berjalan (current account) yang masih defisit.

Di pasar obligasi pemerintah, imbal hasil (yield) sebagian besar masih mengalami kenaikan yield namun tipis saja. Kenaikan yield menandakan harga obligasi sedang turun akibat dilepas para pelaku pasar. Ada empat seri yang biasanya menjadi acuan para pelaku pasar, yakni: FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun.

Seri acuan yang paling melemah adalah FR0078 yang bertenor 10 tahun dengan kenaikan yield 6,5 basis poin (bps) menjadi 7,37%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

Berikut data perkembangan obligasi pemerintah:

Seri Jatuh tempo Yield 31 Jul'19 (%) Selisih (basis poin)
FR0077 5 tahun 6,815 0
FR0078 10 tahun 7,378 6.5
FR0068 15 tahun 7,630 1,1
FR0079 20 tahun 7,862 0,6
Avg movement 2.95
Sumber: Refinitiv

NEXT >>> (yam/yam)

Let's block ads! (Why?)



from CNBC Indonesia https://ift.tt/2ZpKtgm
via IFTTT

No comments:

Post a Comment